
Pasar parfum genderless atau gender-neutral global diperkirakan bernilai USD 3,8 miliar pada 2025 dan diproyeksikan mencapai USD 7,2 miliar pada 2034, tumbuh dengan CAGR 8,2%. Yang lebih mencolok dari angka pasarnya adalah data peluncuran produk. Parfum unisex kini menyumbang 40% dari seluruh peluncuran parfum baru sejak 2023, meski pangsa pasarnya secara nilai baru sekitar 10%. Brand besar seperti Tom Ford Beauty mencatat kenaikan penjualan 42% untuk lini yang dipasarkan secara eksplisit sebagai unisex antara 2023-2025, sementara Gen Z jadi pendorong utama pergeseran ini dengan 72% dari mereka meyakini pemilihan parfum seharusnya tidak terikat gender.
Kenapa Kategori Ini Layak Diperhatikan Sekarang, Bukan Nanti?
Selama puluhan tahun, industri parfum dibangun di atas satu asumsi dasar: aroma “untuk pria” dan aroma “untuk wanita” adalah dua dunia yang terpisah, lengkap dengan kemasan, marketing, dan bahkan lorong rak toko yang berbeda. Asumsi ini mulai retak dalam beberapa tahun terakhir dan bukan cuma soal pergeseran selera, tapi pergeseran nilai pasar yang bisa dihitung.
Bagi brand parfum di Indonesia, kategori genderless masih relatif kosong dari pemain lokal yang serius menggarapnya secara khusus. Ini situasi yang jarang terjadi di industri kecantikan dimana ada tren global yang datanya sudah cukup matang, tapi penerapannya di pasar domestik masih di tahap awal. Artinya, peluang untuk jadi salah satu rujukan pertama di kategori ini masih terbuka lebar.
Data Pasar: Angka yang Perlu Dipahami dengan Konteksnya
Penting dicatat sejak awal: angka pangsa pasar parfum unisex bervariasi cukup lebar antar lembaga riset, karena perbedaan metodologi dan definisi “unisex” itu sendiri. Berikut beberapa data kunci beserta sumbernya masing-masing, supaya tidak disalahpahami sebagai angka tunggal yang konsisten:
| Sumber & Metrik | Angka |
|---|---|
| MarketIntelo – Nilai pasar gender-neutral fragrance global 2025 | USD 3,8 miliar, diproyeksikan USD 7,2 miliar pada 2034 (CAGR 8,2%) |
| MarketIntelo – Porsi peluncuran produk baru sejak 2023 yang unisex | 40% dari total peluncuran, namun baru ~10% dari nilai pasar global |
| Scento Market Report – Pangsa pasar unisex saat ini | ~18% dari total pasar parfum |
| Riset industri lain – Proyeksi pangsa pasar unisex 2025 | Hingga 30%, tumbuh 6,38% per tahun |
| Riset pasar premium – Porsi unisex di segmen parfum premium | Mendekati 40%, naik dari hanya 15% lima tahun lalu |
| Mintel – Proyeksi pertumbuhan peluncuran unisex hingga 2026 | +25% |
Terlepas dari variasi angka ini, satu pola tetap konsisten di seluruh sumber: arah pertumbuhannya sama-sama positif dan signifikan, dan yang lebih penting, kecepatan peluncuran produk baru jauh lebih tinggi dibanding pangsa pasar saat ini. Ini adalah sinyal bahwa brand-brand besar sedang bertaruh pada pertumbuhan kategori ini di masa depan, bukan sekadar merespons permintaan yang sudah ada.
Kenapa Brand Besar Mulai Beralih ke Genderless?
1. Gen Z Menolak Label Gender pada Aroma

Generasi yang kini mendominasi pasar konsumen baru punya sikap yang jelas soal ini. Sekitar 72% konsumen Gen Z meyakini bahwa pemilihan parfum seharusnya tidak terikat pada gender. Data lain menunjukkan 73% Gen Z memakai parfum tiga kali atau lebih dalam seminggu — menunjukkan preferensi yang jelas terhadap fleksibilitas dan ekspresi diri, bukan mengikuti label gender tradisional.
2. Bukti Nyata dari Brand Global yang Sudah Bergerak Duluan

Ini bukan cuma proyeksi di atas kertas. Tom Ford Beauty mencatat kenaikan penjualan 42% untuk produk yang dipasarkan secara eksplisit sebagai unisex antara 2023 hingga 2025, mendorong pertumbuhan keseluruhan portofolio parfum mereka. Brand niche seperti Juliette Has a Gun dan Bon Parfumeur bahkan mencatat kenaikan pembeli Gen Z sebesar 32% pada 2024 untuk lini unisex mereka — bukti bahwa autentisitas dan fleksibilitas aroma benar-benar beresonansi dengan konsumen muda saat ini.
3. Asia-Pasifik Jadi Kawasan dengan Pertumbuhan Tercepat

Kawasan Asia-Pasifik justru memimpin nilai pasar gender-neutral fragrance secara global, menyumbang sekitar 38,5% dari nilai pasar dunia atau setara USD 1,46 miliar pada 2025 melampaui Eropa (32,1%) dan Amerika Utara (21,4%). Pertumbuhan ini didorong urbanisasi cepat, kenaikan pendapatan, dan demografi muda yang terkonsentrasi di kota-kota metropolitan. Tren K-beauty dan J-beauty turut memperluas kategori ini, dengan brand Korea dan Jepang meluncurkan koleksi unisex yang menekankan minimalisme dan bahan alami. Pola yang secara historis memang lebih menerima konsep kecantikan lintas gender dibanding pasar Barat.
4. Rumah Parfum Niche yang Sejak Awal Dirancang Tanpa Gender

Menariknya, konsep genderless bukan sepenuhnya baru. Rumah parfum seperti D.S. & Durga dirancang dengan sensibilitas unisex sejak awal, bukan dilabeli unisex belakangan dan produk-produk ini sering digambarkan sebagai “aroma tanpa gender” yang dipakai bergantian oleh pasangan. Bahkan rumah parfum Timur Tengah seperti Afnan, Swiss Arabian, dan Lattafa sudah beroperasi dalam tradisi wewangian tanpa gender selama beberapa dekade jauh sebelum tren ini populer di pasar Barat.
Karakter Aroma yang Mendominasi Kategori Genderless
Parfum genderless umumnya tidak dibangun di atas struktur aroma “maskulin” atau “feminin” klasik, melainkan fokus pada catatan aroma yang secara alami netral, seperti kayu (woods), musk, dan citrus. Beberapa keluarga aroma yang relevan dengan tren ini:
- Woody-floral dan musky – struktur yang jadi favorit rumah parfum niche untuk komposisi genderless
- Citrus dan aromatic-fresh – memberi kesan bersih dan netral yang mudah diterima lintas preferensi
- Oriental-floral dengan sentuhan hangat – kombinasi seperti patchouli dan vanilla yang tidak terikat asosiasi gender tertentu
Peluang untuk Brand Parfum di Indonesia
Kategori genderless di Indonesia masih relatif jarang digarap secara khusus oleh brand lokal, meski kesadaran soal fleksibilitas ekspresi diri di kalangan konsumen muda Indonesia menunjukkan pola yang sejalan dengan tren global. Beberapa pertimbangan praktis bagi brand yang ingin mulai masuk ke kategori ini:
1. Mulai dari repositioning, bukan cuma produk baru Brand yang sudah punya produk dengan struktur aroma netral (woody, musky, citrus) bisa mempertimbangkan repositioning marketing tanpa harus reformulasi total, cukup menghilangkan pelabelan gender dalam kemasan dan komunikasi pemasaran.
2. Perhatikan bahwa “genderless” adalah soal marketing dan formulasi, bukan cuma slogan Rumah parfum niche yang berhasil di kategori ini umumnya merancang aroma sejak awal tanpa asumsi gender, bukan sekadar menempelkan label “unisex” pada produk yang formulanya sebenarnya masih condong maskulin atau feminin secara konvensional.
3. Segmen premium adalah pintu masuk yang lebih matang Data menunjukkan porsi unisex di segmen parfum premium sudah mendekati 40%, jauh lebih tinggi dibanding pasar massal. Brand yang menyasar segmen menengah ke atas punya peluang lebih besar untuk diterima pasar dengan positioning genderless dibanding brand di segmen harga sangat kompetitif.
4. Pastikan bahan baku mendukung klaim “netral” Karena parfum genderless mengandalkan struktur aroma yang seimbang dan tidak condong ke satu arah, pemilihan bahan baku berkualitas dengan kompleksitas piramida aroma yang matang jadi semakin penting dimana bahan baku yang terlalu sederhana berisiko membuat parfum terasa datar alih-alih netral yang sophisticated.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apa itu parfum genderless atau gender-neutral?
Parfum genderless adalah wewangian yang dipasarkan tanpa label gender tertentu, dirancang berdasarkan mood, kepribadian, dan karakter aroma seperti kayu, musk, atau citrus dan bukan berdasarkan asumsi preferensi maskulin atau feminin.
Seberapa besar pasar parfum genderless saat ini?
Nilai pasar gender-neutral fragrance global diperkirakan mencapai USD 3,8 miliar pada 2025, dengan proyeksi tumbuh menjadi USD 7,2 miliar pada 2034. Angka pangsa pasar bervariasi antar riset (berkisar 10-30% tergantung metodologi), namun porsi peluncuran produk baru yang unisex jauh lebih tinggi, mencapai sekitar 40% sejak 2023.
Kenapa Gen Z jadi pendorong utama tren parfum genderless?
Sekitar 72% konsumen Gen Z meyakini pemilihan parfum seharusnya tidak terikat gender, dan mereka cenderung memilih aroma berdasarkan ekspresi diri dan mood, bukan label tradisional maskulin atau feminin.
Apakah brand parfum Indonesia sudah banyak menggarap kategori genderless?
Kategori ini masih relatif jarang digarap secara khusus oleh brand lokal Indonesia dibanding tren globalnya, membuka peluang bagi brand yang ingin menjadi salah satu pemain awal di kategori ini.
Bagaimana cara memulai lini parfum genderless tanpa reformulasi total?
Brand dengan produk berstruktur aroma netral seperti woody, musky, atau citrus bisa mempertimbangkan repositioning marketing dan kemasan tanpa label gender, tanpa harus melakukan reformulasi besar-besaran dari produk yang sudah ada.

PT Multisari Indoprima adalah distributor eksklusif LUZI Fragrances di Indonesia, menyediakan bahan baku bibit parfum bersertifikasi IFRA dengan kompleksitas aroma yang mendukung kebutuhan formulasi genderless maupun kategori parfum lainnya.
Sumber: MarketIntelo Gender-Neutral Fragrance Market Research Report, Scento Fragrance Market Statistics, Mintel, Grand View Research, Maple Prime, Beauty Creative House.


