Pasar Parfum Makin Ramai, Tapi Apakah Semua Brand Masih Punya Peluang?

Pasar parfum Indonesia masih menawarkan peluang bisnis, tetapi pertumbuhan pasar tidak otomatis membuat setiap brand berhasil. Di tengah semakin banyaknya pilihan parfum lokal, peluang brand baru bergantung pada kemampuannya memahami konsumen, membangun pembeda yang relevan, dan menjaga kualitas serta kelayakan bisnis produknya.

Bagi calon pemilik brand maupun pelaku bisnis parfum yang ingin berkembang, tantangannya bukan sekadar menciptakan aroma yang disukai. Pertanyaan yang lebih penting adalah: produk seperti apa yang dibutuhkan target konsumen, mengapa mereka harus memilihnya, dan apa yang membuat mereka ingin membeli kembali?

Pasar Parfum Indonesia Bertumbuh, Menganalisa Persaingan Kini Juga Jadi Semakin Penting!

Pasar yang berkembang tentu menarik perhatian pelaku bisnis. Namun, angka pertumbuhan sebaiknya dibaca bersama dengan kondisi persaingannya.

Dalam laporan Fragrances in Indonesia yang diterbitkan pada Mei 2026, Euromonitor International mencatat nilai penjualan ritel kategori fragrance di Indonesia mencapai sekitar Rp10,884 triliun pada 2025, dengan pertumbuhan nilai sebesar 9% dibandingkan tahun sebelumnya. Laporan tersebut juga menggambarkan pasar yang terfragmentasi, tanpa satu perusahaan yang mendominasi secara mutlak. L’Oréal Indonesia tercatat sebagai perusahaan terdepan dengan pangsa nilai sekitar 6%.

Data ini menunjukkan bahwa kategori fragrance memiliki skala pasar yang besar dan persaingan yang tersebar di antara berbagai pemain. Namun, data pertumbuhan tersebut bukan jaminan bahwa setiap brand baru akan berhasil. Kinerja tetap dipengaruhi oleh positioning, produk, harga, distribusi, dan kemampuan membangun permintaan.

Sumber: Euromonitor International — Fragrances in Indonesia

Konsumen Semakin Akrab dengan Parfum, tetapi Pilihannya Tetap Selektif

Peluang bisnis parfum juga perlu dilihat dari kebiasaan konsumen. Apakah parfum hanya digunakan pada acara tertentu, atau sudah menjadi bagian dari rutinitas sehari-hari?

Survei internal Snapcart yang melibatkan 1.630 responden dan dipublikasikan pada Mei 2026 menemukan bahwa 50% responden menggunakan fragrance setiap hari, sementara 20% menggunakannya hampir setiap hari. Dalam survei yang sama, 78% responden menyebut aroma sebagai pertimbangan utama dalam memilih produk fragrance, dibandingkan harga sebesar 11% dan merek sebesar 6%.

Temuan ini memberi dua pelajaran bagi pemilik brand parfum.

Pertama, penggunaan fragrance sehari-hari dapat membuka ruang untuk produk yang sesuai dengan rutinitas dan kebutuhan konsumen. Kedua, identitas merek saja belum tentu cukup untuk mendorong pembelian. Pengalaman aroma tetap menjadi bagian penting dari keputusan konsumen.

Artinya, membangun brand parfum bukan hanya soal membuat nama dan kemasan yang menarik. Produk yang ditawarkan juga perlu memiliki karakter aroma yang relevan dengan target pasar dan pengalaman penggunaan yang sesuai dengan janji brand.

Sumber: Snapcart — The Rise of Everyday Fragrance

Mengapa Tidak Semua Brand Parfum Bisa Bersaing dengan Cara yang Sama?

Ketika pilihan produk semakin banyak, mengikuti tren yang sedang populer mungkin terlihat seperti jalan pintas. Padahal, tren yang sama dapat diikuti oleh banyak brand sekaligus.

Jika semua menawarkan aroma, kemasan, harga, dan pesan pemasaran yang serupa, konsumen akan memiliki lebih sedikit alasan untuk memilih satu brand dibandingkan brand lainnya. Persaingan pun berisiko bergeser ke diskon dan harga.

Brand perlu menemukan pembeda yang benar-benar relevan bagi konsumen. Pembeda itu tidak harus selalu berupa aroma yang belum pernah ada sebelumnya. Brand bisa membangun posisi melalui kombinasi beberapa hal berikut.

1. Target konsumen yang lebih spesifik

Daripada menargetkan semua orang, tentukan kelompok konsumen yang ingin dijangkau. Pahami aktivitas, preferensi aroma, kisaran harga, dan alasan mereka menggunakan parfum.

2. Karakter produk yang konsisten

Aroma, desain kemasan, nama varian, dan komunikasi pemasaran sebaiknya mendukung karakter brand yang sama. Konsistensi membantu konsumen memahami apa yang ditawarkan produk.

3. Pengalaman yang sesuai dengan kebutuhan

Konsumen yang mencari parfum untuk aktivitas sehari-hari mungkin memiliki kebutuhan berbeda dari konsumen yang mencari wewangian untuk acara khusus. Memahami konteks penggunaan membantu brand menyusun konsep produk yang lebih relevan.

4. Harga dan model bisnis yang masuk akal

Harga jual tidak cukup ditentukan dengan melihat harga kompetitor. Brand juga perlu memperhitungkan biaya produk, kemasan, pemasaran, distribusi, serta margin yang dibutuhkan agar bisnis dapat berjalan secara berkelanjutan.

Pembeda yang kuat bukan sekadar sesuatu yang terdengar unik. Pembeda tersebut perlu berarti bagi konsumen sekaligus layak dijalankan oleh bisnis.

Apakah Brand Parfum Harus Selalu Mengikuti Aroma yang Viral?

Tidak selalu. Tren bisa menjadi sumber inspirasi dan petunjuk mengenai minat pasar, tetapi tren tidak otomatis membuktikan bahwa sebuah produk cocok untuk semua brand.

Sebelum memutuskan untuk mengikuti tren aroma tertentu, pertimbangkan beberapa pertanyaan berikut:

  • Apakah aroma tersebut sesuai dengan target konsumen dan karakter brand?
  • Apakah ada bukti minat konsumen di luar popularitasnya di media sosial?
  • Apa yang membedakan produk kita dari produk serupa yang sudah tersedia?
  • Apakah biaya produk, harga jual, dan margin masih masuk akal?
  • Apakah brand memiliki cara yang relevan untuk memperkenalkan produk tersebut ke pasar?

Brand juga dapat menguji respons konsumen melalui riset sederhana, pengumpulan masukan dari calon pembeli, atau peluncuran dalam skala terbatas sebelum memperluas produksi. Pendekatan ini membantu mengurangi risiko mengambil keputusan hanya berdasarkan asumsi.

Dengan kata lain, tren sebaiknya diperlakukan sebagai bahan pertimbangan, bukan satu-satunya dasar pengembangan produk.

Penjualan Online Menuntut Brand Mampu Menjelaskan Aroma dengan Jelas

Menjual parfum secara online memiliki tantangan tersendiri. Berbeda dari produk yang mudah dinilai melalui foto, aroma tidak dapat dicium langsung melalui layar. Calon pembeli perlu membayangkan karakter parfum berdasarkan informasi yang tersedia.

Penelitian Talitha Argyanti, Ananda Sabil Hussein, dan Fitri Hariana Oktaviani yang diterbitkan dalam Tuturlogi: Journal of Southeast Asian Communication pada 2025 meneliti keputusan pembelian parfum lokal secara blind buying atau membeli tanpa mencoba aroma terlebih dahulu. Studi terhadap 306 responden tersebut membahas peran deskripsi produk, ulasan online, dan interaksi dengan penjual dalam mengurangi ketidakpastian konsumen.

Temuan ini relevan bagi brand yang mengandalkan marketplace dan media sosial. Informasi produk sebaiknya tidak berhenti pada nama varian atau daftar top, middle, dan base notes. Brand juga dapat menjelaskan karakter aroma dengan bahasa yang mudah dipahami, suasana atau konteks penggunaan yang dibayangkan, serta karakter konsumen yang mungkin menyukainya—tanpa membuat klaim yang tidak dapat dibuktikan.

Contohnya, daripada hanya menulis “fresh citrus”, brand dapat memberikan penjelasan yang lebih kontekstual mengenai kesan segar, ringan, atau bersih yang ingin dihadirkan. Deskripsi tersebut tetap harus sesuai dengan karakter aroma sebenarnya.

Sumber: Argyanti, Hussein, dan Oktaviani — Blind Buying Intention of Local Perfumes: An Indonesian Consumer Perspective

Jangan Hanya Mengejar Penjualan Pertama

Peluncuran produk yang ramai belum tentu menunjukkan bahwa sebuah brand sudah memiliki bisnis yang sehat. Untuk menilai peluang bisnis parfum secara lebih utuh, brand juga perlu memantau apa yang terjadi setelah konsumen melakukan pembelian.

Beberapa indikator yang layak diperhatikan antara lain:

  • Penjualan per varian: varian mana yang benar-benar diminati, bukan hanya ramai dibicarakan?
  • Pembelian ulang: apakah konsumen kembali membeli setelah produk habis?
  • Umpan balik pelanggan: bagian mana yang disukai dan apa yang perlu diperbaiki?
  • Margin produk: apakah penjualan menghasilkan margin yang memadai setelah memperhitungkan biaya terkait?
  • Konsistensi kualitas: apakah produk memberikan pengalaman yang sesuai dari satu pembelian ke pembelian berikutnya?

Indikator tersebut membantu brand memutuskan apakah suatu varian perlu dipertahankan, diperbaiki, dikembangkan, atau dihentikan. Keputusan berbasis data seperti ini lebih berguna daripada terus menambah varian tanpa memahami performa produk yang sudah ada.

Bagaimana Brand Baru Menemukan Peluang di Pasar Parfum?

Tidak ada formula yang menjamin keberhasilan sebuah brand parfum. Namun, ada langkah yang dapat membantu pemilik brand mengambil keputusan dengan lebih terarah.

Mulai dari konsumen, bukan hanya dari ide aroma. Tentukan siapa yang ingin dijangkau dan kebutuhan apa yang ingin dipenuhi.

Petakan kompetitor secara spesifik. Bandingkan target pasar, karakter aroma, harga, ukuran produk, komunikasi brand, dan pengalaman yang ditawarkan. Tujuannya bukan meniru kompetitor, melainkan menemukan ruang yang belum dilayani dengan baik.

Susun konsep produk yang jelas. Hubungkan target konsumen, karakter aroma, positioning harga, kemasan, dan pesan pemasaran. Seluruh elemen tersebut sebaiknya mendukung satu gagasan yang mudah dipahami.

Evaluasi kandidat fragrance dan kelayakan produk. Pemilihan fragrance perlu mempertimbangkan kesesuaian aroma dengan konsep, kebutuhan aplikasi, serta persyaratan teknis produk akhir. Keputusan tidak sebaiknya hanya didasarkan pada preferensi pribadi atau popularitas suatu aroma.

Uji sebelum memperbesar skala. Kumpulkan respons calon konsumen dan evaluasi hasilnya sebelum mengambil keputusan investasi yang lebih besar. Setelah produk diluncurkan, gunakan data penjualan dan pembelian ulang untuk menentukan langkah selanjutnya.

Langkah-langkah ini tidak menghilangkan risiko bisnis, tetapi membantu brand mengurangi keputusan yang hanya didasarkan pada intuisi.

Peran Partner Fragrance dalam Pengembangan Brand

Memilih fragrance merupakan salah satu bagian penting dalam pengembangan produk parfum. Namun, pilihan aroma yang menarik belum tentu otomatis sesuai dengan target konsumen, positioning harga, atau kebutuhan aplikasi produk.

Karena itu, brand dapat memperoleh manfaat dari diskusi dengan partner yang memahami kebutuhan fragrance untuk pengembangan produk. Pembicaraan yang efektif sebaiknya dimulai dari product brief: target konsumen, karakter aroma yang dicari, konsep brand, kisaran harga, dan konteks penggunaan produk.

PT Multisari Indoprima menghadirkan LUZI sebagai salah satu pilihan fragrance bagi pelaku industri yang sedang mengeksplorasi pengembangan produk. Dengan menyampaikan kebutuhan secara jelas sejak awal, brand dapat mendiskusikan kandidat fragrance yang sesuai untuk dievaluasi lebih lanjut berdasarkan brief dan persyaratan teknis produk.

Pada akhirnya, partner yang tepat bukan hanya membantu menemukan aroma yang menarik, tetapi juga membantu proses pemilihan menjadi lebih terarah terhadap tujuan produk dan bisnis.

Jadi, Apakah Brand Parfum Baru Masih Punya Peluang?

Ya, peluang bisnis parfum di Indonesia masih ada, tetapi tidak semua brand akan otomatis berhasil hanya karena pasarnya berkembang. Peluang yang lebih kuat datang dari pemahaman konsumen, diferensiasi yang relevan, pengelolaan harga dan margin, serta evaluasi produk berdasarkan respons pasar.

Brand tidak harus menjadi yang paling ramai atau selalu mengikuti aroma viral. Yang lebih penting adalah menemukan alasan yang jelas mengapa konsumen perlu memilih produknya—dan memastikan alasan tersebut didukung oleh pengalaman produk yang konsisten.

Jika Anda sedang merencanakan pengembangan brand parfum atau mengevaluasi pilihan fragrance untuk produk baru, mulailah dengan konsep dan kebutuhan pasar yang jelas. PT Multisari Indoprima dan LUZI dapat menjadi mitra diskusi untuk mengeksplorasi pilihan fragrance yang relevan dengan brief pengembangan produk Anda.


Pertanyaan yang Sering Diajukan tentang Peluang Bisnis Parfum

Apakah bisnis parfum masih menjanjikan di Indonesia?

Bisnis parfum masih memiliki peluang di Indonesia. Euromonitor International mencatat nilai penjualan ritel kategori fragrance sekitar Rp10,884 triliun pada 2025, tumbuh 9% secara nilai dibandingkan tahun sebelumnya. Namun, potensi pasar tidak menjamin keberhasilan setiap brand. Hasil bisnis tetap dipengaruhi oleh produk, target konsumen, positioning, harga, dan strategi pemasaran.

Bagaimana cara agar brand parfum baru bisa bersaing?

Brand parfum baru perlu menentukan target konsumen yang spesifik, membangun karakter produk yang konsisten, menawarkan pembeda yang relevan, dan menetapkan harga yang mendukung kelayakan bisnis. Riset konsumen serta evaluasi penjualan juga membantu brand mengambil keputusan berdasarkan data.

Apakah brand parfum harus mengikuti aroma yang sedang viral?

Tidak harus. Tren dapat menjadi sumber inspirasi, tetapi brand perlu mengevaluasi kesesuaian aroma dengan target pasar, identitas produk, potensi permintaan, dan margin bisnis sebelum memutuskan untuk mengikutinya.

Apa yang perlu diperhatikan sebelum meluncurkan produk parfum baru?

Beberapa hal penting meliputi target konsumen, konsep dan karakter aroma, positioning harga, biaya produk, kemasan, persyaratan teknis, serta rencana pengujian respons pasar. Brand sebaiknya mengevaluasi kandidat produk sebelum memperbesar skala peluncuran.

Bagaimana cara memilih fragrance untuk brand parfum?

Mulailah dengan product brief yang menjelaskan target konsumen, karakter aroma, positioning brand, kisaran harga, dan konteks penggunaan produk. Brief yang jelas membantu proses diskusi dan evaluasi kandidat fragrance agar lebih sesuai dengan tujuan pengembangan produk.

Apa peran PT Multisari Indoprima dan LUZI dalam pengembangan produk parfum?

PT Multisari Indoprima menghadirkan LUZI sebagai salah satu pilihan fragrance bagi pelaku industri yang mengembangkan produk. Brand dapat mendiskusikan kebutuhan dan product brief untuk mengeksplorasi kandidat fragrance yang relevan, dengan tetap mempertimbangkan kecocokan aroma dan persyaratan teknis produk akhir.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top