Ada satu angka yang seharusnya bikin setiap brand owner dan formulator parfum di Indonesia berhenti sejenak: 62% pembeli bersedia membayar 20-30% lebih mahal untuk wewangian yang diklaim bisa menurunkan stres, memperbaiki kualitas tidur, atau mendongkrak fokus kerja.

Bukan diskon. Bukan promo beli-satu-gratis-satu. Justru sebaliknya, konsumen dengan sengaja memilih untuk membayar lebih mahal, asal parfum yang mereka beli punya fungsi nyata di luar sekadar “wangi enak”.
Kalau kamu sedang mikirin strategi diferensiasi produk, riset ini layak jadi bahan pertimbangan serius. Karena ini bukan cuma soal tren sesaat, ini soal pergeseran cara konsumen mendefinisikan ulang apa itu “parfum berkualitas”.
Ini Bukan Fenomena Kebetulan. Datanya Konsisten dari Berbagai Sumber
Kalau cuma satu riset yang bilang begini, wajar kalau kamu skeptis. Tapi ternyata pola ini muncul berulang dari berbagai lembaga riset independen, dengan kesimpulan yang saling menguatkan.
Lembaga riset consumer intelligence global NielsenIQ dalam laporan Global State of Health & Wellness 2025 mencatat bahwa kesejahteraan emosional dan mental kini dianggap lebih penting oleh 69% konsumen Indonesia dibanding sebelumnya. Angka ini tertinggi dibanding kategori kesehatan lain seperti kebugaran jantung atau nutrisi. Riset yang sama juga menemukan 46% konsumen Indonesia sudah proaktif mengambil langkah nyata untuk memperbaiki kesehatan mereka, termasuk lewat pilihan konsumsi sehari-hari.
Di level global, lembaga riset pasar Mintel salah satu otoritas riset industri kecantikan dan wewangian terbesar dunia bahkan lebih tegas lagi. Mereka mengidentifikasi positioning wellness sebagai arah strategis dengan pertumbuhan tercepat di seluruh kategori wewangian, dengan klaim fungsional seperti penurunan stres, peningkatan mood, dan dukungan kognitif kini muncul di semua tingkatan produk dari pasar massal sampai ultra.
Analis Mintel bahkan menyimpulkan satu hal yang menarik. Konsumen yang dulu memilih parfum berdasarkan bagaimana aromanya tercium, sekarang memilih berdasarkan bagaimana perasaan yang ditimbulkannya dan mereka menyebut ini pergeseran fundamental, bukan sekadar tren musiman.
Kenapa Momentum Ini Muncul Sekarang?
Ada tiga kekuatan besar yang saling bertemu, dan kebetulan semuanya sedang terjadi bersamaan di Indonesia.
1. Wellness Sudah Jadi Kebutuhan Pokok, Bukan Gaya Hidup Sesaat

McKinsey mencatat bahwa secara global, 82% konsumen kini menempatkan wellness sebagai prioritas hidup “utama atau penting”, dan angka ini terus naik menjadi 84% di tahun 2025. Konsumen tidak lagi memandang pengeluaran wellness sebagai sesuatu yang opsional riset yang sama menunjukkan mereka justru semakin memberi penghargaan pada brand yang memberikan panduan kredibel dan informasi produk yang transparan, bahkan rela membayar harga premium untuk produk yang bertanggung jawab.
2. Generasi dengan Daya Beli Terbesar Justru yang Paling Menuntut Fungsi
Ini bagian yang paling penting buat kamu yang menyasar pasar muda. Riset McKinsey terhadap lebih dari 9.000 konsumen menemukan bahwa generasi muda khususnya Gen Z dan milenial bukan hanya mendominasi belanja wellness secara proporsional, tapi juga mendefinisikan ulang apa arti wellness itu sendiri. Di Amerika Serikat misalnya, Gen Z dan milenial menyumbang 36% dari populasi orang dewasa, tapi menguasai 41% dari total belanja wellness tahunan proporsi belanja mereka lebih besar dari proporsi populasinya.
Konsumen wellness modern juga makin kritis. Survei Harris Williams menemukan bahwa 91% konsumen menilai efikasi produk sebagai faktor penting sebelum memutuskan membeli. Ini artinya klaim fungsional tidak bisa asal tempel, tapi harus punya dasar yang meyakinkan.
3. Parfum dan Wewangian Sudah Resmi “Naik Kelas” Jadi Bagian dari Rutinitas Kesehatan
Ini pergeseran paling menarik. Fragrance yang dulu dianggap aksesori gaya hidup, sekarang mulai dipandang sebagai bagian dari rutinitas kesehatan harian. Riset industri mencatat bahwa brand wellness premium kini secara khusus berinvestasi dalam pengembangan wewangian yang dirancang untuk mendukung optimalisasi tidur, penurunan stres, peningkatan fokus, atau ketahanan emosional.
Saat ini, banyak rumah wewangian yang bahkan punya divisi riset khusus untuk ini. Lewat platform Science of Wellness, mereka menyebut fragrance sebagai intervensi wellness lingkungan yang paling langsung dan hemat biaya yang tersedia bagi konsumen rata-rata mencatat bahwa pemilihan lilin atau parfum personal yang tepat bisa memengaruhi penanda stres fisiologis seseorang.
Data Pasar Menunjukan Bahwa Ukuran Peluangnya Tidak Kecil

Kalau masih ragu apakah ini sekadar niche kecil atau benar-benar peluang bisnis yang signifikan, berikut gambaran skalanya:
- Pasar wewangian rumah (home fragrance) global diproyeksikan mencapai USD 40 miliar, dan menurut riset industri, segmen dengan pertumbuhan tercepat justru produk premium di kisaran harga USD 50 ke atas bukan produk murah bervolume tinggi.
- Produk yang menggabungkan wewangian dengan klaim dukungan tidur, penurunan stres, atau meditasi tercatat tumbuh pesat, dan wewangian yang diintegrasikan dengan klaim atau teknologi wellness terbukti mampu mengenakan harga premium serta menarik konsumen yang peduli kesehatan.
- Pasar kecantikan yang dipersonalisasi — kategori yang berdekatan dengan functional fragrance — diproyeksikan tumbuh dari USD 43 miliar di 2024 menjadi USD 84 miliar pada 2029, hampir dua kali lipat dalam lima tahun.
Yang menarik, fenomena “lipstick effect” turut memperkuat posisi kategori ini. Riset menunjukkan produk yang mengubah kebiasaan sehari-hari menjadi ritual bernilai tinggi mampu bertahan bahkan saat anggaran belanja konsumen sedang ketat, karena self-care yang indulgent terasa seperti kemewahan yang masih terjangkau.
Apa Artinya Buat Brand Owner dan Formulator di Indonesia?
Ini bukan sekadar informasi menarik untuk dibaca lalu dilupakan. Ada beberapa implikasi konkret yang layak dipikirkan serius:
1. Margin lebih tinggi bukan sekadar mimpi, asal klaimnya kredibel
Rentang 20-30% margin tambahan itu signifikan untuk bisnis parfum mana pun. Tapi penting diingat: klaim fungsional harus didukung bahan baku dan formulasi yang benar-benar bisa dipertanggungjawabkan, bukan sekadar strategi marketing kosong. Konsumen sekarang jauh lebih kritis dan mudah mengecek klaim lewat riset sendiri.
2. Ini momentum tepat untuk diferensiasi, bukan sekadar ikut tren
Pasar parfum Indonesia masih dipenuhi produk yang bersaing lewat aroma dan harga. Brand yang lebih dulu masuk ke segmen functional fragrance parfum untuk fokus kerja, parfum untuk membantu relaksasi sebelum tidur, wewangian ruang kerja yang menenangkan punya peluang menjadi pemain awal di kategori yang di Indonesia masih relatif kosong.
3. Segmen usia produktif Indonesia adalah target yang tepat
Dengan tingginya tingkat stres dan burnout di kalangan pekerja muda serta mahasiswa Indonesia yang banyak diberitakan, ditambah fakta bahwa generasi muda secara global terbukti paling royal untuk pengeluaran wellness, kombinasi ini membuka ruang pasar yang jelas & terukur, bukan asumsi tanpa dasar.
4. Formulasi harus mulai dari bahan baku yang tepat
Klaim seperti “menurunkan stres” atau “mendukung fokus” biasanya bersandar pada bahan-bahan aromaterapi tertentu lavender dan chamomile untuk relaksasi, citrus dan peppermint untuk fokus, misalnya. Memilih supplier bahan baku yang memahami kombinasi fungsional semacam ini jadi kunci supaya klaim produk tidak sekadar jargon marketing.
Peluang yang Masih Terbuka Lebar
Riset-riset ini menunjukkan satu benang merah yang jelas: konsumen tidak lagi puas dengan parfum yang “hanya” wangi. Mereka mencari produk yang punya alasan lebih dalam untuk dibeli dan mereka bersedia membayar lebih untuk itu.
Bagi brand parfum dan formulator di Indonesia, ini bukan ancaman terhadap model bisnis lama, tapi jalan baru yang masih relatif sepi pemain. Kategori functional fragrance di pasar Indonesia belum sepadat di pasar global, artinya siapa pun yang bergerak lebih dulu dengan formulasi yang kredibel dan klaim yang bisa dipertanggungjawabkan, punya kesempatan besar membangun posisi sebagai pionir, bukan sekadar pengikut tren.
Pertanyaannya bukan lagi “apakah tren ini nyata”, tapi “siapa yang akan lebih dulu menangkap peluangnya di Indonesia”.
Sumber:
1. NielsenIQ Global State of Health & Wellness 2025
2. Mintel Global Beauty and Fragrance Research
3. McKinsey & Company, Shopify Enterprise Research
4. IFF Science of Wellness
5. Harris Williams Consumer Survey 2024
6. PT Multisari Indoprima


