Wangi Bunga Lily yang Dilarang – Kenapa Lyral dan Lilial Kini Jadi “Musuh Bersama” Industri Parfum?

Coba ingat-ingat, kapan terakhir kali kamu mencium parfum dengan aroma floral yang lembut, segar, sedikit “berair”, seperti bunga lily of the valley yang baru mekar? Ada kemungkinan besar aroma itu berasal dari dua bahan yang dulu jadi andalan hampir semua rumah parfum dunia yaitu Lyral dan Lilial.

Masalahnya, dua bahan ini sekarang berstatus terlarang. Bukan dibatasi, bukan dikurangi dosisnya tapi benar-benar dilarang total dari kosmetik dan parfum di banyak negara, termasuk yang mengacu pada standar IFRA (International Fragrance Association).

Kalau kamu berkecimpung di dunia formulasi parfum, ini bukan sekadar berita sampingan. Ini menyangkut apakah produk yang sedang kamu jual atau sedang kamu racik sekarang — masih aman secara regulasi atau tidak. Yuk kita bahas pelan-pelan, apa sebenarnya Lyral dan Lilial ini, dan kenapa dunia parfum akhirnya “putus hubungan” dengan keduanya.


Apa Itu Lyral dan Lilial?

Sederhananya, Lyral dan Lilial adalah bahan aroma sintetis yang dipakai untuk menciptakan nuansa floral lily of the valley, salah satu wewangian bunga paling ikonik dan disukai di dunia parfum, tapi susah diekstrak langsung dari bunganya karena secara alami minyak lily of the valley sangat sulit didapat dalam jumlah besar.

Lilial (nama kimianya Butylphenyl Methylpropional) menghadirkan nuansa lily of the valley yang lembut dengan sentuhan “berair”, dan sudah jadi bahan wajib di banyak formula parfum populer selama puluhan tahun.

Lyral punya karakter aroma yang sedikit berbeda dan lebih ke arah floral hydroxycitronellal yang hangat, tapi tetap dalam keluarga aroma lily of the valley yang sama.

Keduanya begitu populer karena satu alasan simpel: efektif, murah, dan susah dicari penggantinya yang seiris. Bahkan menurut catatan industri, Lilial dianggap sulit disubstitusi karena molekulnya sangat efektif dalam menghasilkan aroma yang diinginkan.

Tapi di balik keefektifannya, ada harga yang harus dibayar. Dan sayangnya, harga itu dibayar oleh tubuh manusia.


Kenapa Akhirnya Dilarang? Ini Bukan Soal “Tren Bersih-Bersih Bahan”

Banyak yang mengira larangan bahan-bahan kimia di industri kecantikan itu semacam tren marketing “clean beauty”. Untuk Lyral dan Lilial, ceritanya jauh lebih serius dari itu.

Lilial – Ancamannya Menyentuh Sistem Reproduksi

Ini bukan alergi kulit biasa. Badan yang meninjau keamanan bahan kosmetik di Uni Eropa, SCCS (Scientific Committee on Consumer Safety), sejak 2015 sudah menyimpulkan bahwa Lilial tidak aman digunakan sebagai bahan wewangian dalam produk kosmetik, baik yang dipakai dan dibilas maupun yang dibiarkan menempel di kulit bahkan pada batas konsentrasi yang sudah ditetapkan IFRA sekalipun.

Yang membuat statusnya makin serius adalah karena Lilial direklasifikasi sebagai bahan yang toksik terhadap reproduksi. Riset menunjukkan bahwa paparan jangka panjang terhadap bahan ini berpotensi menurunkan kualitas sperma pada pria dan membahayakan perkembangan janin pada ibu hamil.

Karena risikonya menyentuh langsung sistem reproduksi manusia dan bukan sekadar iritasi kulit ringan, maka regulator di Eropa akhirnya mengambil sikap tegas. Uni Eropa resmi melarang penggunaan Lilial (dengan nomor CAS 80-54-6) di pasar Eropa sejak 1 Maret 2022, setelah bahan ini direklasifikasi sebagai bahan yang toksik terhadap reproduksi.

Di Inggris, larangan ini bahkan diawali dengan langkah sukarela dari industri sendiri sebelum akhirnya jadi aturan resmi. Asosiasi kosmetik dan parfum Inggris (CTPA) sempat menganjurkan anggotanya untuk secara sukarela menghapus Lilial dari produk kosmetik sebelum akhir 2021, sebelum regulasi resmi mengikutinya.

Lyral – “Biang Kerok” Alergi Kulit

Kalau Lilial soal reproduksi, masalah utama Lyral ada di kulit dan datanya cukup mengejutkan.

Lyral tercatat sebagai salah satu penyebab utama kasus alergi kulit parah, termasuk eksim, berdasarkan data medis global. Bukan alergi ringan yang hilang dalam sehari, tapi reaksi yang menurut catatan industri bisa sangat mengganggu dan meninggalkan bekas.

Ini sejalan dengan sejarah panjang Lyral sebagai “tersangka utama” dalam kasus dermatitis kontak akibat wewangian. Bersama dua senyawa lain dari kelompok oakmoss (atranol dan chloroatranol), Lyral disebut sebagai penyebab kasus alergi kontak terbanyak di antara bahan-bahan wewangian sebelum akhirnya dilarang.

Uni Eropa pertama kali melarang Lyral di kosmetik lewat amandemen regulasi pada 2017, dan sejak 23 Agustus 2021, produk yang mengandung Lyral resmi dilarang beredar di pasar Uni Eropa.


Kenapa IFRA Ikut Melarang, Bukan Cuma Uni Eropa?

Di sinilah letak pentingnya memahami peran IFRA. IFRA bukan lembaga regulasi pemerintah, ia adalah asosiasi industri yang menyusun standar keamanan wewangian berdasarkan riset ilmiah dari lembaga penelitian independen bernama RIFM (Research Institute for Fragrance Materials).

Setiap kali RIFM menemukan bukti ilmiah baru soal risiko sebuah bahan, IFRA memperbarui standarnya lewat sistem amandemen yang diberi nomor urut dan larangan terhadap Lilial serta Lyral masuk dalam rangkaian amandemen ini. Seperti dijelaskan oleh salah satu praktisi industri wewangian, IFRA menerbitkan standar untuk membatasi atau melarang bahan baku dalam wewangian demi menjamin keamanan konsumen, berdasarkan data dari para ilmuwan RIFM dan Lilial menjadi salah satu contoh bahan yang akhirnya dilarang total meski sulit dicari penggantinya.

Menariknya, meski regulasi resmi seperti Uni Eropa yang paling awal memberlakukan larangan hukum, IFRA pada akhirnya mengikuti arah yang sama lewat pembaruan standarnya karena sumber datanya berasal dari riset ilmiah yang sama. Standar IFRA sendiri terus diperbarui secara berkala. Industri kini sudah berada di amandemen ke-51, jauh melampaui amandemen 48-49 yang menjadi titik awal larangan Lilial beberapa tahun lalu.

Satu hal yang perlu dipahami pelaku industri adalah IFRA sendiri bukan badan regulasi resmi, sehingga aturan hukum di suatu negara bisa saja lebih ketat dibanding standar IFRA. Artinya, pelaku bisnis parfum wajib mengecek dua hal sekaligus yaitu batasan versi IFRA terbaru, dan regulasi resmi di negara tempat produk itu dijual lalu mengikuti mana pun yang lebih ketat.


Apa Artinya Buat Kamu yang Berkecimpung di Bisnis Parfum?

Kalau kamu masih punya stok bibit parfum lama, atau formula warisan yang belum direformulasi, ini saatnya melakukan pengecekan serius. Beberapa hal penting yang perlu diperhatikan:

1. Stok lama bukan aset, tapi risiko. Bibit parfum yang mengandung Lyral sudah masuk kategori bahan yang tidak boleh dipakai untuk produksi baru dan bahkan cenderung diperlakukan sebagai limbah berbahaya yang harus dibuang, bukan disimpan atau digunakan.

2. Selalu minta sertifikat IFRA versi terbaru dari supplier. Dokumen sertifikat yang sudah lawas berpotensi belum mencakup pembaruan larangan bahan terbaru. Pastikan sertifikat yang kamu pegang benar-benar mengacu pada index amandemen IFRA yang paling mutakhir, bukan versi lama yang sudah kedaluwarsa secara regulasi.

3. Reformulasi itu bukan pilihan, tapi keharusan. Meski Lilial dan Lyral sulit digantikan karena efektivitas aromanya, industri terbukti bisa beradaptasi. Bahkan hingga kini, riset pengembangan bahan pengganti terus berjalan dan beberapa paten baru dirancang khusus untuk meniru karakter aroma lily of the valley dari Lyral dan Lilial, tanpa membawa risiko toksisitas yang sama.

4. Regulator bisa sewaktu-waktu turun ke lapangan. Di Indonesia sendiri, BPOM diketahui rutin melakukan uji petik dengan membeli produk parfum di pasaran secara acak, lalu membedah kandungan kimianya di laboratorium. Jika ditemukan bahan terlarang yang tidak dilaporkan saat pendaftaran produk, konsekuensinya bukan main-main.


Wangi yang Indah, Tapi Harus Aman Dulu

Cerita Lyral dan Lilial ini sebenarnya cerita yang cukup manusiawi kalau dipikir-pikir. Bahan yang dulu dicintai karena mampu menghadirkan wangi bunga lily yang lembut dan familiar, ternyata menyimpan risiko yang baru terungkap seiring berjalannya waktu dan berkembangnya riset ilmiah.

Ini bukan soal industri parfum “jahat” atau lalai. Justru sebaliknya, proses panjang riset, evaluasi ilmiah, hingga akhirnya larangan resmi ini menunjukkan bagaimana industri wewangian terus belajar dan memperbaiki diri demi keamanan orang yang memakainya.

Buat kamu yang bergerak di industri ini, pelajaran terbesarnya sederhana: aroma yang indah harus selalu berjalan beriringan dengan keamanan yang teruji. Karena pada akhirnya, produk yang benar-benar bertahan lama bukan cuma yang wangi tapi yang bisa dipercaya.


Sumber: Scientific Committee on Consumer Safety (SCCS) Uni Eropa, EC Regulation 1223/2009, Cosmetic Toiletry and Perfumery Association (CTPA) UK, International Fragrance Association (IFRA), Premium Beauty News, Maklon Kosmetik Indonesia.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top